Rabu, 07 Maret 2012

(*ADA BAGI TUAN RUMAH DALAM MENERIMA TAMU*)


Adab Bagi Tuan Rumah
1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)
3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)
5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya: “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.
12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam, “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)
13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”
16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.
Adab Bagi Tamu
1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad). “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)
4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (QS. Al Ahzab: 53)
5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)
6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (QS. Al Ahzab: 53)
9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
10. Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari)
11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa: “Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR. Abu Daud, dinilai shahih oleh Al Albani)
“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)
“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)
12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

Senin, 20 Februari 2012

ADAB-ADAB TIDUR

ADAB-ADAB TIDUR




█ SEBELUM TIDUR
¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
● Tdk tidur t'lalu larut stlh sholat isya kecuali dlm keadaan darurat sprt untuk belajar, ada tamu, menemani keluarga, atw lainny:
===> Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) & b'bincang-bincang (yg tdk b'manfaat) setelahnya.” [Hr Bukhari No. 568 & Muslim No. 647 (235)]

● Menutup pintu & jendela serta memadamkan api & lampu sebelum tidur.
===> Dr Jabir Radhiyallahu ‘anh diriwayatkan bhw sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tlh b'sabda, “Padamkan lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana makanan & minuman” (Muttafaq’alaih)

● Hendaknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu.
===> “Apabila engkau hendak m'datangi pembaringan (tidur), maka hendaklah b'wudhu terlebih dahulu sebgmn wudhumu utk melakukan sholat.” (HR Bukhari No. 247 & Muslim No. 2710)

● Memakai celak mata ketika hendak tidur.
===> Dr Ibnu Umar: “Bahwasanya Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memakai celak dgn batu celak setiap malam sebelum beliau hendak tidur malam, beliau sholallahu ‘alaihi wassalam memakai celak pd kedua matanya sebanyak 3 kali goresan” (HR. Ibnu Majah No. 3497)

● Hendaknya m'bersihkan tempat tidur dr kotoran sblum tidur
===>“Jk salah seorg di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain & mengibaskan tempat tidurnya dgn kain tsb sambil mengucapkan ‘bismillah’, krn ia tidak tahu apa yg tjd sepeninggalnya td.” (HR Bukhari No. 6320, Muslim No. 2714, At-Tirmidzi No. 3401 & Abu Dawud No. 5050)

● Hendaknya mendahulukan posisi tidur di atas sisi sebelah kanan (rusuk kanan sebagai tumpuan) & berbantal dgn tangan kanan, tdk mengapa jk setelahnya berubah posisinya di atas sisi kiri (rusuk kiri sebagai tumpuan).
===> “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR Bukhari no. 247 & Muslim no. 2710)
===> Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

● Tidak telungkup dgn posisi perut sbg tumpuannya.
===> “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yg dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dgn sanad yg shohih)

● Membaca ayat kursi dan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh.

● Mengatupkan dua telapak tangan lalu ditiup dan dibacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq & An-Naas kmdn dgn 2 telapak tangan m'usap bagian tubuh yg dpt dijangkau dgnya dimulai dari kepala, wajah, & tubuh bagian depan sebanyak 3 kali
===> (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari XI/277 No. 4439, 5016 (cet. Daar Abi Hayan) Muslim No. 2192, Abu Dawud No. 3902, At-Tirmidzi)

● Hendaknya b'doa dgn doa yg telah diajarkan oleh Rasulullah, seperti:

“Bismika Allahumma Ammuutu wa Ahya”

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari No. 6312, Abu Dawud 5409, Ibnu Majjah 3880)

● Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita) dalam satu selimut. (HR. Muslim)

● Anak laki-laki dan perempuan hendaknya dipisahkan tempat tidurnya setelah berumur 6 tahun. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi)

● Tidak diperbolehkan tidur hanya dengan memakai selimut, tanpa memakai busana apa-apa. (HR. Muslim)



█ SAAT TIDUR
¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
● Disunnahkan apabila hendak membalikkan tubuh (dari satu sisi ke sisi yang lain) ketika tidur malam mengucapkan doa:

لا إ له إ لاالله الواحدالقهاررب السماوات واﻷرض ومابينهماالعز يزالغفار

Laa ilaha illallahu waahidulqahhaaru rabbussamaawaati wal ardhi wa maa baynahumaa ‘aziizulghaffaru.”

"Tidak ada Illah yang berhak diibadahi kecuali Alloh yang Maha Esa, Maha Perkasa, Rabb yang menguasai langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (HR. Al-Hakim I/540 disepakati & dishohihkan oleh Imam adz-Dzahabi)

● Apabila merasa gelisah, risau, merasa takut ketika tidur malam atau merasa kesepian maka dianjurkan b'doa:

أعوذ بكلمات الله التامات من غضبه و شرعباده ومن همزات الشيا طين وأن يحضرون

A’udzu bikalimaatillahi attammati min ghadhabihi wa ‘iqaabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisysyayaathiin wa ayyahdhuruun.”

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan para syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud No. 3893, At-Tirmidzi No. 3528 & lainnya)

● Jk b'mimpi buruk:
---^ meludah ke kiri tiga kali (diriwayatkan Muslim IV/1772),
---^ memohon perlindungan kpd Alloh dr godaan syaitan yg t'kutuk & dari keburukan mimpi yg dilihat (3 kali) (Muslim IV/1772-1773)
---^ b'pindah posisi tidurnya dr sisi sebelumnya atau bangun & shalat bila mau (Muslim IV/1773)
---^ jgn sekali-kali m'ceritakannya pd siapapun mimpi tsb



█ BANGUN TIDUR
¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
● M'baca do’a sebelum berdiri dari tempat pembaringan, yaitu:

الحمد لله الذي أحيانابعدماأماتناوإليه النشور

Alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilayhinnusyuur.”

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan.” (HR Bukhari No. 6312 & Muslim No. 2711)

● Disunnahkan mengusap bekas tidur yg ada di wajah maupun tangan.
===> Maka bangunlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dr tidurnya kmdn duduk sambil m'usap wajah dgn tanganny” [HR Muslim No. 763 (182)]

● Bersiwak/membersihkan mulut dan gigi
===> Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun malam membersihkan mulutnya dgn bersiwak.” (HR Bukhari No. 245 & Muslim No. 255)

● Beristinsyaq & beristintsaar (menghirup kmdn mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung).
===> “Apabila salah seorg di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah 3 kali krn sesunggguhnya syaitan b'malam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238)

● Mencuci kedua tangan 3 kali,
===> “Apabila salah seorg di antara kamu bangun tidur, jgnlah ia memasukkan tangannya ke dlm bejana, sebelum ia mencucinya 3 kali.” (HR Bukhari No. 162 & Muslim No.278)

Cara merakit 2 lnb
Merakit lnb memiliki peranan sangat penting dalam pemasangan antena parabola karena letak lnb berada pada tempat yang menjadi fokus sinyal pantulan dish. Jika kita kurang jeli dalam perakitan lnb ini, maka hasilnya jadi tidak optimal. Berikut akan saya jelaskan tentang cara merakit 2 lnb agar pemasangan antena parabola hasilnya optimal.

Yang harus disiapkan adalah 2 buah lnb beserta switch dan dudukannya. Seperti yang terlihat pada gambar berikut:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjY3CCRXnRe9mPYS-6bcOOHFkZbu5HouVWubbkr5Y_JqivY1zWxEGfDFl5H0GLEJ68iotXsCJeMDjv0O1vJo-PcF8mG_H_TuFm499Z5sxoqq4iSOVwqw4OZiIoe0p3n7i-wKon2Ghxv-ABf/s200/2+lnb.jpg
2 Buah LNB dan dudukannya
Kemudian kedua lnb dimasukkan pada lubang dudukan dan kencangkanlah bautnya. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBWU4xmzi-iE4XKO2OKeg4ErmFbrqNg71Mmgc248fldvsLMpU66DVpiwsStR1wIMQO3JR1H0srZLwS6w-FYz26113zL2bOWGyZ2LUzRh-dyhtmwoc1otmi65MKT-1xibYwpaZxh7RErkAg/s200/2lnb.jpg
2 LNB terpasang pada dudukan
Cara mengencangkan baut sebaiknya dengan posisi terbalik dan tutup lnb dibuka agar lebih mudah dalam penyearahan jarum horisontal. Bantalan jarum horisontal dibuat searah antara dua lnb dan aturlah jarak antar lnb sesuai dish anda seperti gambar dibawah ini:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCOianEN95CGxOH4PIGtk0Wc2uvUeX-CGHyk2xDX7F9aZNMBA5TwT7H6zsSM402tTH9OWngEaIOe_svNAeog-7PX_MH0iH-jbiniETnt-SwOrZUpbxQwfh3r-zJP38Ioa74lGVIjnmgzkK/s200/2lnb+bawah.jpg
2 LNB dari bawah

Selanjutnya buatlah bibir lnb menjorok kebawah dudukan kira-kira 1 cm seperti gambar dibawah ini:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFWAL5il5mL4AraaqESf0uSmHrakCXCkcEByGd-beMoFSez7FN-ntBsvM-ajXUcIfj4zNZHOR7bx3B2ILyZE5tmFPZfQ48KlyY7KjQwjMvp0wb34xPtYC3Vdn0B261GTrkgLP9XeMlMFLr/s200/2+lnbf.jpg
Bibir LNB Menjorok
Ini dimaksudkan agar lnb tidak menjadi tumpuan kerucut sinyal dari dudukan. Dengan lnb di pasang menjorok kebawah maka lnb akan menerima fokus bebas dan akan tetap mampu menerima sinyal dengan baik walaupun kualitas dish kurang baik.

Selanjutnya pasang kabel konektor dari lnb ke switch. Kebetulan gambar dibawah ini menggunakanswitch 22k inside. Setelah itu perakitan 2 lnb pada dudukan sudah selesai dan siap dipasang pada stik/tiang fokus dish. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizuAUWvztM4PaziBhqq65goI0PRSl8iC6Y_WQddVa3onFu0ayVGazkOdhBRKD4K0Y9W9jVfPpcRSviuBBBVNMIHxhyphenhyphen1bGsAOxBH4kW1Z3GLkbNofa1XmyhhQko9kFMWvlCrp7IaPnbxG8N/s200/2lnb+atas.jpg
Gambar 2 LNB dari atas dengan switch 22k inside
demikianlah cara merakit 2 lnb menurut pengalaman saya. semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca. *salam sukses*
Diposkan oleh Mas Adun di 00:34 http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif
Label: 2caralnbrakit






Pemasangan LNB juga tidak sama pada setiap parabola tergantung besar kecilnya parabola yangdigunakan. Intinya jarak antara LNB-F 1 dan LNB-F 2, dan yang digeser gerser adalah LNB-F2.
Perhatikan gambar-gambarnya dibawah ini.Pemasangan LNB untuk paarabola 5-6 feet seperti terlihat pada gambar dibawah ini
http://htmlimg1.scribdassets.com/750amvdn401172a4/images/4-9ce04e82e7.jpghttp://htmlimg1.scribdassets.com/750amvdn401172a4/images/4-9ce04e82e7.jpg



Pemasangan LNB untuk parabola 7-8 feet di perllihatkan pada gambar dibawah iniPemasangan LNB untuk parabola 9-10 feet di perllihatkan pada gambar dibawah ini
http://htmlimg4.scribdassets.com/750amvdn401172a4/images/5-7ef20b4ae6.jpg



Demikian Cara memasang 2 in 1 LNB-F. Semoga ada manfaatnyaUntuk cara pasang parabolanya lihat
disiniJika ada kesalahan mohon dikoreksi dan komentar yang membangun



Mengatasi " Tidak Ada Sinyal " Pada Antena Parabola Digital FTA

oleh Skynet Offline Download pada 3 Juni 2011 pukul 15:51
http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/250446_220660951296742_176448475717990_796808_1630396_n.jpg
 Antena Parabola Digital FTA adalah sebuah perangkat penerima siaran TV dan Radio yang di pancar kan melalui satelit secara Free To Air, dengan perangkat ini penerimaan sinyal Televisi tidak terpengaruh lagi dengan lingkungan sekitarnya seperti pohon, gunung dan lain sebagainya.


Kelebihan lainnya yang dapat kita nikmati dengan salah satu perangkat digital ini adalah  kualitas gambar dan suara yang dihasilkannya, bagaimana pun bagusnya gambar dan suara yang di hasilkan oleh antena analog ( antena UHF dan VHF ) tetap tidak bisa membandingi kualitas gambar dan suara Antena Parabola Digital. Bahkan saat ini sudah ada perangkat Antena Parabola Digital yang mampu menerima siaran HDTV ( high-definition television )

Umum nya Antena Parabola Digital FTA terdiri dari 4 bagian utama yaitu :
1. SOLID DISH Parabola
2. LNB ( Low Noise Block converter ).
3. DiSCq ( Digital Satellite Equipment Control ).
4. Receiver DVB ( Digital Video Broadcasting ) FTA ( Free To Air ).

http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/255171_220661084630062_176448475717990_796809_1975419_n.jpg
Karena ke empat bagian tersebut mempunyai fungsi yang saling berkaitan, maka bila salah satu diantaranya mengalami kerusakan maka proses penerimaan sinyal akan mengalami gangguan atau bahkan tidak dapat menerima sinyal sama sekali.

Berikut ini pengalaman penulis dalam mengatasi " Tidak ada sinyal " pada antena parabola digital FTA dan juga cara memperbaikinya :

http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/248976_220661177963386_176448475717990_796811_2302329_n.jpg
Semua saluran yang ada pada daftar siaran Televisi dan Radio kehilangan sinyal, baik intensitas atau pun kualitas. Pada layar Televisi tampil pesan " tidak ada sinyal " dan bila tombol Info pada remote control ditekan, muncul tampilan seperti pada gambar 01, di sini terlihat jelas persentase  Intensitas dan Kualitas sinyal terbaca dengan angka 0 Persen.

Sebelum memeriksa perangkat luar, cek terlebih dahulu koneksi kabel dengan Receiver FTA dan pastikan sudah terpasang dengan benar.

http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/246786_220661264630044_176448475717990_796812_8007073_n.jpg
Jika oke dan tidak ada kesalahan, pemeriksaan dilanjutkan ke perangkat luar dan tentu saja antena harus di jungkir balik ( Gambar 02 - Kiri ) untuk memudahkan pemeriksaan.
http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/247456_220661367963367_176448475717990_796814_2319634_n.jpg
 Agar posisi antena tidak berubah pada saat di jungkir balik, sebaiknya mur penyangga bagian atas saja yang dilepas, letak mur tersebut ada pada ujung atas baut penyangga Solid Dish seperti yang ditunjuk panah merah pada gambar 02 - kanan dalam lingkaran putih.

Sebagai langkah awal, terlebih dahulu periksa kondisi kabel yang menghubungkan DiSCq dengan Receiver. Lepaskan kedua ujung kabel yang terpasang pada DiSCq dan Receiver. Periksa kabel secara teliti jengkal demi jengkal  dan pastikan tidak ada bagian yang ter lewatkan. Bila ditemukan ada bagian yang terluka, kemungkinan besar kabel tersebut sudah keropos dan putus salah satu / kedua jalur nya akibat air hujan yang masuk ke dalamnya melalui bagian yang terluka tersebut. Untuk memastikan nya, lakukan pengetesan kabel dengan menggunakan Multi-meter dalam posisi Ohm meter X1. Bila hasil pengetesan membuktikan ter putusnya salah satu / kedua jalur kabel, sebaiknya diganti dengan yang baru ( mencari dan menyambung jalur kabel yang putus sangat tidak disarankan, ke depannya tindakan seperti ini dapat berakibat buruk pada receiver ).

Sampai di sini belum berhasil meningkatkan Intensitas sinyal ?  lanjutkan pemeriksaan kebagian  berikutnya ! Pasang kembali salah satu ujung kabel pada Receiver, sedangkan ujung kabel yang lainnya pasang langsung ke bagian Output pada salah satu  LNB dan tanpa melalui DiSCq. kalau dengan cara ini persentase Intensitas bisa bergerak naik dan menunjukkan angka tertentu, maka ada kemungkinan DiSCq sudah dalam kondisi rusak.

http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/251551_220661434630027_176448475717990_796816_4895353_n.jpg
Agar lebih meyakinkan, pindahkan kabel ke Output LNB yang satunya lagi. Apabila hasilnya tetap sama, maka sudah positif DiSCq mengalami kerusakan.

Umumnya faktor yang menjadi penyebab kerusakan dari sebuah DiSCq adalah merembes nya air hujan ke dalam kabinet nya, sehingga terjadi hubungan pendek antar komponen elektronik yang ada dalam kabinet tersebut. Adapun faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah terjadinya hubungan pendek antara kedua jalur kabel yang menjadi penghubung LNB dengan DiSCq, dan kejadian tersebut terjadi pada saat DiSCq terhubung dengan Receiver yang sedang aktif.

Setelah semua tahap pemeriksaan di atas sudah dilakukan, tapi belum berhasil juga mengatasi permasalahan.  Jangan putus asa, masih ada satu tahap pemeriksaan lagi yang bisa dilakukan.

Pada tahap pemeriksaan sebelumnya tersisa satu bagian lagi yang belum di periksa kondisi nya, yaitu LNB. Karena ini bagian terakhir yang belum diperiksa, tentu saja kecurigaan kita akan tertuju pada bagian tersebut. Masuk akal memang, tapi berdasarkan pengalaman kami di lapangan, hal tersebut tidaklah selalu terbukti kebenarannya. Terkadang LNB sudah diganti dengan yang baru, ternyata intensitas sinyal tetap saja belum bisa menujukan perubahan ( tetap 0 Persen ). Setelah di lakukan  pemeriksaan secara lebih teliti, ternyata bagian yang mengalami kerusakan adalah Receiver. Maka dari itu sebelum mengambil keputusan untuk membeli satu set LNB yang baru, ada baiknya di periksa terlebih dahulu bagian Receiver tersebut. Dalam hal ini pengujian dilakukan untuk mengetahui kemampuan Receiver memberikan tegangan kepada LNB.

Caranya ?  Tidak terlalu sulit, ikuti saja langka demi langkah berikut ini  :
§  Pertama, pastikan Receiver dalam keadaan Off.
§  Siapkan sepotong kabel yang sama jenisnya dengan kabel penghubung Receiver dengan DiSCq, usahakan ukurannya jangan terlalu panjang  ( kira-kira satu jengkal saja ). 
§  Lepaskan ujung kabel yang terpasang pada Receiver, sedangkan ujung kabel yang terpasang pada LNB jangan dilepas.
§  Pasang salah satu ujung potongan kabel yang sudah kita siapkan pada Receiver, sementara ujung yang lainnya di sambungan kan ke ujung kabel yang sudah kita lepaskan tadi, pastikan jalur Positif yang berupa kawat tunggal salah satu ujung kabel tersambung dengan jalur positif pada ujung kabel yang lainnya. Demikian juga dengan jalur Negatif yang berupa kawat serabut, jangan sampai terbalik pemasangan nya. serta usahakan sambungan tersebut tidak mengalami hubungan singkat selama proses pengujian berlangsung.
§  Siapkan sebuah Multi-Tester dengan posisi DCV - 50.
§  Tempel kan kabel Positif Multi-Tester pada jalur Positif sambungan kabel yang telah kita buat tadi, demikian pula dengan kabel Negatif Multi-Tester ditempel kan juga pada jalur Negatif sambungan kabel tersebut.
§  Hidupkan Receiver, pilih salah satu saluran Televisi yang menggunakan polaritas Horizontal pada daftar siaran Televisi  ( misalnya RCTI ) dan amati pergerakan jarum Multi-Tester. Dalam kondisi normal seharusnya jarum Multi-Tester bergerak dan berhenti pada skala 18 Volt. Namun bila pergerakan jarum berhenti di bawah skala 18 Volt ( 10 Volt misalnya ) atau bahkan tidak bergerak sama sekali, hampir dapat dipastikan Receiver sudah tidak mampu lagi menyalurkan tegangan kepada LNB dan sudah tiba saatnya untuk diganti. Supaya hasil pengujian tidak meragukan, Matikan Receiver kemudian lepaskan sambungan kabel yang terhubung dengan LNB, sedangkan kedua kabel Multi-Tester jangan dilepaskan. Hidupkan kembali Receiver, kalau ternyata jarum Multi-Tester kembali menunjuk skala 18 Volt, sudah tidak meragukan lagi kalau Receiver memang sudah tidak dapat digunakan lagi.
§   Kalau pada saat kabel dari LNB belum dilepaskan dari sambungan jarum Multi-Tester berhenti pada skala 18 Volt, ini berarti kondisi Receiver masih dalam keadaan normal dan kecurigaan kita pada LNB terbukti kebenarannya.
Catatan :
1.      Untuk pengujian yang menggunakan saluran Televisi dengan polaritas Vertikal ( Indosiar misalnya ) kondisi normal ditandai dengan berhentinya pergerakan jarum Multi-Tester pada skala 13 Volt.
2.     Sekali lagi, pada saat proses pengujian berlangsung  jangan sampai sambungan kabel mengalami hubungan pendek. Sebab bila hal yang demikian terjadi secara berulang-ulang, kondisi Receiver yang belum diketahui keadaannya, benar-benar akan mengalami kerusakan.
3.     Sebaiknya pada saat melepas dan menyumbangkan kabel pada bagian mana pun, matikan Receiver terlebih dahulu.